GEMPA, GURU TAK BOLEH PANIK!

 

ADZKIA – Gempa Magnitudo 5,2 SR yang mengguncang kawasan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten, Ahad (28/7) pekan lalu cukup menjadi perhatian Tim Manajemen SMA Adzkia. Meski berada jauh dari pusat gempa, guncangan yang terasa di kawasan lingkungan Pesantren Daarut Tauhiid cukup membuat panik santri yang berada di Asrama.

“Gempa pekan lalu memang menjadi dasar bagi kita untuk mengadakan sosialisasi dan simulasi mitigasi bencana bagi seluruh civitas SMA Adzkia,” ujar Kepala SMA Adzkia, Ustaz Irwan Gunawan, Jumat (2/8). Menurut Ustaz Irwan, sosialisasi dan pemahaman mitigasi bencana ini sangat perlu diadakan untuk meminimalisir resiko terjadinya bencana. Terlebih lagi, beberapa tahun mendatang gedung yang berada di lingkungan Pesantren Daarut Tauhiid dituturkan Ustaz Irwan sudah di setting menjadi bangunan 4 lantai.

Sosialisasi yang dilaksanakan bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang Selatan ini pun cukup membuat antusias Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) SMA Adzkia. Musyrifah SMA Adzkia, Ustazah Siti Rusmini Hamdie menuturkan, gempa yang terjadi pekan lalu memang cukup membuat panik ia dan tim musyrifah lain. “Kita para musyrifah berada di lantai 4, dan guncangan yang terjadi lumayan terasa. Jadi sosialisasi dan simulasi mitigasi bencana, khususnya bencana gempa seperti ini saya rasa sangat diperlukan bagi kami. Apalagi, usai santri sekolah, mereka berada di bawah pengawasan kami sepenuhnya,” ucap Ustazah Siti.

Hal senada juga turut diungkapkan Dodi Harianto, Tim Perwakilan BPBD yang siang ini menjadi Pemateri kegiatan Sosialisasi dan Simulasi Mitigasi Bencana di SMA Adzkia. Pria kelahiran Kubang yang saat ini bergabung dalam Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Tangsel ini mengatakan jika sosialisasi seperti ini sangat dibutuhkan bagi GTK di lembaga pendidikan seperti sekolah. “Harapannya jika sudah mendapat ilmunya, guru tidak akan panik lagi, ketika suatu saat terjadi gempa. Kalau Guru tidak panik, santri tidak akan panik,” tuturnya.

Ia juga menegaskan jika Guru panik, bisa jadi Siswa yang akan menolong Guru, bukan sebaliknya, saat Gempa terjadi. “Guru harus keluar paling belakang, tidak boleh siswanya yang keluar paling akhir,” tambah Dodi. Tidak hanya itu, Guru juga menurut Dodi harus bisa memetakan wilayah tempatnya masing-masing berada. Seperti misalnya harus paham dimana posisi infokus atau kipas angin yang tergantung di atas, dan sekiranya dapat jatuh jika gempa terjadi.

Begitu juga dengan kaca jendela, dinding retak, dan area-area rentan lain, agar ketika Gempa terjadi bisa membantu mengarahkan siswa. “Kita tidak berharap bencana terjadi. Namun sekiranya memang suatu saat terjadi, setidaknya tim Guru dan Tenaga Kependidikan, serta siswa SMA Adzkia sudah punya sedikit bekal terkait mitigasi bencana yang harapannya dapat meminimalisir segala resiko yang ada,” pungkas Ustaz Irwan. (HumAdz)

Add comment


Security code
Refresh

SMA ADZKIA ISLAMIC SCHOOL

JL.Sukamulya V no 1, Rt. 01/09 Serua indah - Ciputat, Kota Tangerang Selatan 15414 Telp. (021)74638050 hp/WA : 08111840415