JADI SANTRIPRENEUR, SISWA ADZKIA DIAJARKAN TIRU CARA DAGANG RASUL

Foto by : M. Rifa'i

ADZKIA – “Siapa yang ingin menjadi Tukang Cukur Rambut, atau penjual Mie Instan?” Pertanyaan yang cukup unik tersebut tentunya mendapatkan jawaban berupa gelengan kepala dari siswa SMA Adzkia Daarut Tauhiid.

Tak satupun dari 50 siswa yang hadir dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Tarumanegara bertajuk ‘Komunikasi Bisnis Program Santripreneur dalam Mencetak Enterpreneur Muda’ tersebut mengacungkan jarinya. Ini artinya, tak satupun dari siswa yang mayoritas duduk di kelas XII tersebut bercita-cita menjadi tukang cukur rambut atau penjual mie instan.

Rata-rata dari siswa menjawab, jika omset seorang tukar cukur rambut dan penjual mie instan sangat kecil, dan pekerjaan tersebut kurang menarik sehingga tidak sesuai dengan passion mereka.“Tidak ada yang ngacung, ya. Padahal, kalian belum tahu,jika kedua bisnis tersebut digeluti dan dijalankan dengan baik, akan menghasilkan keuntungan ratusan juta per bulannya,” ujar salah satu Pemateri Diskusi, Elik Susanto, sembari memutar Video yang menampilkan wawancara dengan salah satu pemilik gerai cukur rambut yang sukses meraup keuntungan ratusan juta setiap bulannya.

Hal ini pun kontan membuat para siswa yang mengikuti diskusi tersebut terbuka pikirannya. Menurut Elik, masih banyak orang yang gagal menemukan potensi utama ketika memulai bisnisnya. Pria yang juga merupakan Redaktur Eksekutif Tempo.co ini menuturkan, ada tiga poin yang harus diperhatikan sebelum membuka usaha, yaitu pintar melihat kebutuhan pasar, tahu keinginan konsumen, dan tangguh dalam mengatasi masalah.

“Selain itu, jangan lupa meniru cara berbisnis Nabi Muhammad SAW, yang mendapat julukan Al Amin, artinya yang dipercaya. Kalau ingin sukses, apapun jenis usahanya, seorang pengusaha harus jujur dan dapat dipercaya,” kata Elik. Selain mendapat banyak tips memulai wirausaha dari Elik, siswa Adzkia juga mendapatkan pengetahuan terkait pengalaman berbisnis dari tiga mahasiswa Universitas Tarumanegara, Anggi Melinda, Yusrina, dan Nadya Febriyanti.

Mahasiswa semester VII Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanegara ini pun membagian kiat dalam merintis bisnis yang telah mereka geluti beberapa tahun terakhir, baik dalam bidang kuliner (bisnis Puding Lumer), maupun bidang fashion (Kerudung Dazzle dan Clothing Line Quo Vadis). “Salah satu tips yang saya sudah jalankan adalah, ketika berjualan dengan teknik open PO (Pre Order), jangan terlalu sering buka PO. Maksimal sepekan sekali. Jadi orang akan terus penasaran dan ketagihan dengan produk kita, serta ada rasa kangen. Jadi ga bosan,” tutur Yusrina, menceritakan pengalamannya.

Program PKM dari Universitas Tarumanegara ini tentu sejalan dengan program SMA Adzkia, yang tidak hanya ingin menonjolkan siswa di bidang akademik, non akademik saja, tetapi juga mendidik siswa agar menjadi pribadi mandiri. Terlebih, wirausaha juga dinilai sebagai alternatif pilihan bagi siswa usai lulus dari SMA Adzkia, selain melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

“Selain mendidik siswa agar memiliki akhlak baik, berkarakter, dan memiliki hafalan Quran yang baik, SMA Adzkia juga berusaha untuk mengajarkan santri agar bisa memiliki jiwa entrepreneur. Hal ini tentunya sejalan dengan slogan Daarut tauhiid, Dzikir, Fikir, Ikhtiar, dimana ikhtiar dapat dilakukan salah satunya dengan berwirausaha,” pungkas Wakil Kepala SMA Adzkia, Ustaz Gunawan Setiaji. (HumAdz)

 

Add comment


Security code
Refresh

SMA ADZKIA ISLAMIC SCHOOL

JL.Sukamulya V no 1, Rt. 01/09 Serua indah - Ciputat, Kota Tangerang Selatan 15414 Telp. (021)74638050 hp/WA : 08111840415