EMPAT KIAT MENJADI GURU YANG DIRINDUKAN

ADZKIA - Salah seorang sahabat guru di Sekolah Kader SMA Adzkia Islamic School mendapatkan surat dari siswa saat peringatan Hari Guru. Isinya cukup menarik. Selain ucapan terimakasih, dalam surat juga tertuang berbagai kalimat mengenai betapa beruntungnya siswa ini karena telah dididik sedemikian rupa, dari yang dulunya merupakan sosok “pembangkang”, hingga bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Meski tampak sederhana, sepucuk surat ini layak mendapatkan perhatian. Dari untaian kata tersebut, kita dapat belajar, bagaimana tindakan seorang guru dalam menyikapi sesuatu, dapat mempengaruhi keputusan seseorang dalam hidupnya. Kita juga dapat memetik hikmah bahwa, dengan treatment yang tepat, kondisi yang tadinya tidak baik, dapat menjadi baik.

Menjadi guru yang dirindukan pun bukan tugas atau pula wasilah seorang guru semata. Di rumah, seorang ibu pun sepatutnya belajar agar bisa menjadi guru yang baik sehingga dapat mendidik anak-anak dengan paripurna di rumah. Seperti kata pepatah Arab, Al Ummu, Madrasatul Al Ula. Ibu, adalah Madrasah (sekolah) pertama bagi anaknya. Tak hanya di sekolah, justru dari rumahlah, tolak pangkal pendidikan anak bermula.

Melalui kegiatan In House Training (IHT) yang digelar di Sekolah Kader Adzkia Islamic School pekan lalu, Ustaz Hodam Wijaya berbagi kiat agar dapat menjadi ‘Guru yang Dirindukan Serindu-rindunya’. Sebelum memulai materi, Ustaz yang merupakan Inisiator dan Dewan Pembina Komunitas BK Pesantren & Boarding School Indonesia ini terlebih dahulu melontarkan pertanyaan kepada guru sekolah kader Adzkia Islamic School. “Apa yang menyebabkan kita merindukan seseorang?”

Ustaz Hodam menuturkan, ketika kita memiliki hubungan emosional dengan seseorang, maka relationship (hubungan) secara otomatis akan terbangun. “Maka dari itu, untuk dapat menjadi sosok guru yang dirindukan, adalah dengan membangun hubungan terlebih dahulu,” ungkapnya. Untuk dapat membangun hubungan yang positif ini, Ustaz Hodam pun memberikan beberapa kiat yang sangat aplikatif dan dapat langsung diterapkan, diantaranya;

  1. Connection, before Corection

Kiat pertama yang diberikan Ustaz Hodam adalah dengan membangun dulu koneksi sebelum mengoreksi, ketika anak melakukan kesalahan. “Tangkap dulu emosinya, saat berinteraksi, mau itu positif atau negatif. Jangan salah respon ya. Katakan yes, untuk semua emosinya. Tangkap. Namun no, untuk perilakunya yang menyimpang,” tutur Ustaz Hodam.

  1. Bersikap Lembut

Pada kiat kedua, Ustaz Hodam menyarankan agar guru dapat melakukan aksi koneksi sebelum memulai interaksi dengan siswa. “Bagaimana melakukan aksi koneksi? Pertama, berikan salam, senyum dengan komposisi 227, sapa dengan nama yang disuka, puji penampilan dan tanyakan perasaannya, serta yang terakhir, berikan sentuhan dan doa” ujar Ustaz Hodam Wijaya. Founder Madrasah Ibrahim ini mencontohkan senyum 227 dengan komposisi 2 cm ke kiri, 2 cm ke kanan, selama 7 detik.

  1. Tidak Kasar dan Keras

Kiat ketiga yang diungkapkan Ustaz Hodam adalah dengan tidak berkata kasar dan juga keras. Untuk dapat membangun hubungan positif dengan siswa, Ustaz Hodam menyarankan agar guru dapat bersikap penuh empati. “Selalu bersikap empati, empati, dan empati,” tuturnya.

Ketika siswa mengutarakan masalahnya, Ustaz Hodam meminta guru untuk dapat memberikan respon empati. Respon empati ini dapat diberikan dengan memahami sisi logis / intelektual dan memahami sisi feeling / emosi. Beberapa respon non empati yang harapannya dapat dihindari untuk dilakukan ketika siswa mengungkapkan suatu kondisi yang tidak ideal adalah bersikap menasehati, menyelidik, menafsirkan, dan mengevaluasi.

  1. Toleran, namun dengan cara proaktif

Kiat keempat, dengan memberikan sikap yang proaktif ketika berhadapan dengan suatu masalah. “Harus diingat bahwa caranya adalah dengan proaktif, bukan reaktif. Seorang guru harus memiliki keterampilan mengendalikan emosi,” kata Ustaz Hodam.

Ustaz yang juga diamanahi sebagai Kepala Biro Pengasuhan Baitul Quran Bogor ini menyarankan agar guru sebisa mungkin dapat mengendalikan amarah. “Jika mau marah, cukup dengan ekspresi marah. Jangan mengeluarkan sepatah kata pun. Jika memang harus marah, marahlah dengan pernyataan verbal, tidak dengan tindakan,” tambahnya.

Diungkapkan Ustaz Hodam, jika memang guru sudah tidak bisa mengendalikan emosi, marahlah sejadi-jadinya, namun tetap dalam kendali. “Namun ini untuk santri yang sudah berkali-kali melakukan pelanggaran, dan kasusnya berat. Atau santri ini tidak sopan ke guru secara berlebihan. Namun ini hanya jika sudah tidak dapat dikendalikan lagi amarahnya,” pungkas Ustaz Hodam.(Nawang)

 

 

 

 

 

Add comment


Security code
Refresh

SMA ADZKIA ISLAMIC SCHOOL

JL.Sukamulya V no 1, Rt. 01/09 Serua indah - Ciputat, Kota Tangerang Selatan 15414 Telp. (021)74638050 hp/WA : 08111840415